xyz

xyz
xyz

Jumat, 17 Agustus 2007

Es yang Lebih Panas daripada Air Mendidih

oleh: abi[ Selasa,20 Maret 2007 - 06:03 AM] Hal tersebut dapat dilakukan pada kondisi ekstrim. Para peneliti menggunakan mesin Z di laboratorium Sandia yang dapat menghasilkan panas lebih tinggi daripada suhu di permukaan Matahari. Agar berubah menjadi es, air diberi tekanan 70.000 atmosfer.
Mesin Z di Laboratorium Nasional Sandia, AS..(Foto : www.sandia.com)
"Tiga fasa air yang kita ketahui - es saat dingin, cair pada suhu kamar, dan uap panas - hanya sebagian kecil dari kondisi air," ujar salah satu peneliti di Sandia, Daniel Dolan. Sifat air tidak mengikuti hukum tiga fasa tersebut saat berada pada kondisi ekstrim. Misalnya, lanjut Dolan, memberi tekanan pada air akan memanaskannya, namun dengan tekanan yang ekstrim, air justru memadat menjadi es.Sampai saat ini, setidaknya sudah ada 11 jenis es yang tidak diketahui banyak orang dan diklasifikasikan berdasarkan sifatnya pada suhu dan tekanan tertentu. Salah satu jenis air yang terbentuk pada kondisi ekstrim mungkin pernah Anda dengar yakni air super-dingin. Air jenis ini tetap berbentuk cairan meskipun suhunya di bawah 32 derajat Celcius. Fenomena air dan es memang unik. Jika didinginkan, volume es seharusnya lebih kecil daripada saat berbentuk cair karena memadat. Tapi, kenyataannya es menghabiskan ruang lebih besar daripada saat berbentuk cair pada tekanan atmosfer bukan? Buktikan sendiri dengan meletakkan segelas air di dalam freezer. Namun, pada kondisi ekstrim bertekanan dan suhu tinggi seperti dalam penelitian ini, es justru menyusut dan segera mencair kembali begitu tekanan dilepaskan.Sayangnya para peneliti belum bisa menjelaskan scara spesifik masing-masing kondisi air yang terbentuk pada kondisi ekstrim. Seperti kata Dolan, mengapa hampir dikatakan mustahil membuat es pada tekanan di atas 70.000 atmosfer. Nah, dengan penelitian di Sandia, para peneliti berharap dapat mempelajari sifat-sifat material terutama air pada kondisi ekstrim.

Tidak ada komentar: